Deforestasi dan hilangnya ekosistem alami oleh PSN Food Estate Merauke di Papua Selatan
EN
ID

Deforestasi dan hilangnya ekosistem alami oleh PSN Food Estate Merauke di Papua Selatan

Proyek lumbung pangan dan energi skala raksasa ini tidak hanya mengancam hutan alam, tapi juga ekosistem alami lainnya.

Hamparan sawah dan tanaman pertanian intensif lainnya di dalam area PSN Food Estate Merauke, yang dibangun dengan mengkonversi hutan alam dan ekosistem alami lainnya. Direkam dari titik 140°35′17,80″E, 8°16′53,27″S. Foto: Auriga Nusantara, 6 Mei 2026.

Bentang alam Merauke adalah kasus lugas yang menunjukkan tidak tepatnya rujukan bagi pengelolaan ekosistem alami Indonesia yang cenderung bertumpu pada ekosistem Indonesia Bagian Barat. Ketidaktepatan ini terlihat pada setidaknya tiga hal.

Pertama, sistem skoring penentuan area dilindungi, terutama hutan lindung, yang sangat mengedepankan kelerengan. Padahal, Merauke secara ekstrim berupa daerah datar. Akibatnya, dari 4,7 juta hektare daratan di Kabupaten Merauke, hanya 0,05 persen berupa Hutan Lindung.

Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 818/Yuboi di Desa Sermayam Indah, Distrik Jagebob, Kabupaten Merauke, Papua Barat Daya. Dianggap sebagai batalyon pertanian, karena selain dibentuk di dalam area juga batalyon merupakan pelaksana PSN Food Estate Merauke. Direkam dari titik 140°35′58,60″E, 8°16′58,11″S. Foto: Auriga Nusantara 6 April 2026

Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 818/Yuboi di Desa Sermayam Indah, Distrik Jagebob, Kabupaten Merauke, Papua Barat Daya. Dianggap sebagai batalyon pertanian, karena selain dibentuk di dalam area juga batalyon merupakan pelaksana PSN Food Estate Merauke. Direkam dari titik 140°35′58,60″E, 8°16′58,11″S. Foto: Auriga Nusantara 6 April 2026

Deforestasi dan konversi ekosistem alami menjadi perkebunan tebu (pengembangan industri bioetanol) sekitar Yonif TP 817/Aoba di Distrik Jagebob, Kabupaten Merauke. Direkam dari titik 140°45′1,75″E, 7°54′21,03″S. Foto: Auriga Nusantara, 6 Mei 2026.

Deforestasi dan konversi ekosistem alami menjadi perkebunan tebu (pengembangan industri bioetanol) sekitar Yonif TP 817/Aoba di Distrik Jagebob, Kabupaten Merauke. Direkam dari titik 140°45′1,75″E, 7°54′21,03″S. Foto: Auriga Nusantara, 6 Mei 2026.

Kedua, volume tegakan yang dijadikan sebagai salah satu kriteria utama penentuan lahan kritis. Dengan ekosistemnya yang unik, sangat susah menemukan pohon berdiameter besar di ekosistem klimaks lahan basah di Merauke. Akibatnya, area itu dianggap sebagai lahan kritis yang perlu “ditingkatkan” volume kayunya, baik oleh tegakan monokultur berkayu atau dijadikan “lahan pertanian produktif”.

Ketiga, parameter pangan yang didominasi oleh beras. Padahal, makanan pokok Orang Asli Papua bukanlah beras, melainkan beragam jenis yang bersumber dari hutan sekitar mereka, terutama sagu dan umbi-umbian.

Ekosistem alami lahan basah di dalam area PSN Food Estate Merauke. Direkam dari titik 140°45′34,41″E, 8°7′1,62″S. Foto: Auriga Nusantara, 6 Mei 2026.

Ekosistem alami lahan basah di dalam area PSN Food Estate Merauke. Direkam dari titik 140°45′34,41″E, 8°7′1,62″S. Foto: Auriga Nusantara, 6 Mei 2026.

Pembabatan ekosistem alami yang didominasi kekayuan Melaleuca sp. berdiameter relatif kecil di dalam area PSN Food Estate Merauke. Diduga dilakukan atau dikendalikan oleh Yonif TP 818/Yuboi. Direkam dari titik 140°35′37,82″E, 8°16′35,09″S. Foto Auriga Nusantara, 5 Mei 2026

Pembabatan ekosistem alami yang didominasi kekayuan Melaleuca sp. berdiameter relatif kecil di dalam area PSN Food Estate Merauke. Diduga dilakukan atau dikendalikan oleh Yonif TP 818/Yuboi. Direkam dari titik 140°35′37,82″E, 8°16′35,09″S. Foto Auriga Nusantara, 5 Mei 2026

Food Estate Merauke termasuk rentetan akibatnya. Ekosistem alami direncanakan dikonversi menjadi area pertanian monokultur dengan jenis-jenis introdusir, seperti padi sawah, tebu, dan sebagainya. Tak tanggung-tanggung, pada area seluas 2,2 juta hektare. Sedemikian luasnya sehingga Mongabay menyebutnya sebagai proyek deforestasi terbesar di dunia.

Ekskavator yang sedang melakukan pembersihan lahan dalam area PSN Food Estate Merauke. Direkam dari titik 140°45′25,62″E, 8°12′37,87″S. Foto: Auriga Nusantara 5 Mei 2026.

Ekskavator yang sedang melakukan pembersihan lahan dalam area PSN Food Estate Merauke. Direkam dari titik 140°45′25,62″E, 8°12′37,87″S. Foto: Auriga Nusantara 5 Mei 2026. 

Puluhan ekskavator yang disediakan untuk melakukan pembabatan hutan dan ekosistem alami hingga pembersihan lahan dalam area PSN Food Estate Merauke. Direkam dari titik 140°22′42,98″E, 8°26′10,47″S. Foto: Auriga Nusantara, 7 Mei 2026.

Puluhan ekskavator yang disediakan untuk melakukan pembabatan hutan dan ekosistem alami hingga pembersihan lahan dalam area PSN Food Estate Merauke. Direkam dari titik 140°22′42,98″E, 8°26′10,47″S. Foto: Auriga Nusantara, 7 Mei 2026.

Tumpukan kayu pasca pembabatan hutan dan ekosistem alami dalam area PSN Food Estate Merauke. Area ini direncanakan ditanami tebu. Direkam dari titik 140°45′30,26″E, 7°54′51,96″S. Foto Auriga Nusantara, 6 Mei 2026.

Tumpukan kayu pasca pembabatan hutan dan ekosistem alami dalam area PSN Food Estate Merauke. Area ini direncanakan ditanami tebu. Direkam dari titik 140°45′30,26″E, 7°54′51,96″S. Foto Auriga Nusantara, 6 Mei 2026.

Food Estate Merauke adalah bentuk atau nama kini proyek pangan di Merauke, Papua Selatan, yang ditetapkan Pemerintahan Joko Widodo sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) pada 10 November 2023. Sebelumnya, pada era Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, sebagian daerah ini sejatinya sudah dicanangkan untuk proyek pangan dan energi. Pada 2007, area ini dicanangkan sebagai lokasi proyek perintis pertanian padi industri skala luas yang dinamai Merauke Integrated Rice Estate (MIRE) yang dilaksanakan oleh Medco Group. Pada Agustus 2010 kemudian menjadi Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE).

before food estate
after food estate

Perubahan tutupan lahan oleh land clearing dalam area PSN Food Estate Merauke. Area yang dibuka berada di sepanjang —atau didahului oleh pembangunan— jalan. Land clearing teridentifikasi sejak Agustus 2024. Hingga Juli 2026, seluas 12.048 hektare area yang telah mengalami land clearing. Sumber: Planet Scope

Penelusuran Auriga Nusantara terhadap peta Food Estate Merauke menemukan bahwa luas area tersebut seluas 2,2 juta hektare. Setelah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) pada November 2023, lebih dari 11.000 hektare hutan dan ekosistem alami Merauke yang telah dibuka (land clearing), yakni seluas 4.603 hektare pada 2024 dan 6.605 hektare pada 2025.

Deforestasi Januari-Mei 2026 di area Food Estate Merauke
Bulan Nilai
Jan 148
Feb 403
Mar 561
Apr 264
Mei 62

Dari land clearing tersebut, teridentifikasi adanya hutan alam seluas 2.892 hektare yang hilang (deforestasi), yakni 269 hektare pada 2024 dan 2.623 hektare pada 2025. Sebagaimana grafik di atas, deforestasi–dan juga kehilangan ekosistem alami ini–masih akan terus berlanjut, selain karena berupa proyek yang dinaungi dengan kebijakan pemerintah (legal deforestation), juga karena perlindungan hukum terhadap ekosistem alami seperti savana tidak ada di Indonesia. 

SITASI:
Deforestasi dan hilangnya ekosistem alami oleh PSN Food Estate Merauke di Papua Selatan, diakses pada [DD/MM/YYYY] melalui tautan [LINK]. Auriga Nusantara. 2026

Ikuti perkembangan story ini

Dapatkan pemberitahuan melalui email setiap kali ada pembaruan terbaru.

Diskusi

Komentar

0 komentar

Wajib diisi dan tidak ditampilkan ke publik.

0/2000

Verifikasi keamanan

Wajib diisi dan tidak ditampilkan ke publik.

0/2000

Verifikasi keamanan

Belum ada komentar.